Friday, October 16, 2009

Software Freedom Day at UI!

Titipan dari seorang teman ;)

Setelah 1 tahun berselang, Software Freedom Day, yang disponsori oleh OSUM Universitas Indonesia, kembali hadir dengan tema yang menarik, yakni "Back to School, Back to Open Source".

Acara ini dimeriahkan di seluruh dunia pada tanggal 10 September 2009. Namun karena bertepatan dengan lebaran, maka di Indonesia, acara Software Freedom Day ini akan dilaksanakan tanggal 16 Oktober 2009 di lebih dari 30 universitas di Indonesia.

Di Universitas Indonesia sendiri, acara ini akan berlangsung di Ruang 3113 Gedung C Fasilkom UI hari Jumat 16 Oktober 2009 mulai dari jam 13.30.

Acara ini akan diisi oleh beberapa susunan acara yang menarik, yakni:
13.30 Opening Speech
14.00 WordPress, an Open Source CMS Technologies (M.Ilman Akbar, pendiri Univind)
15.00 Deeper Look to Free Open Source Software (Gladhi Guardin)
16.00 Develop Your Android Application Using Open Source Technologies (Deni Lukmanul Hakim)
17.00 Closing & Bagi-bagi Goodies dan Doorprizes

Ingin daftar di acara ini? Caranya mudah. Kamu tinggal mengunjungi alamat ini: http://osum.sun.com/events/sfd2009-ui, dan menuliskan RSVP kamu disana.

Jangan sia-siakan kesempatan setahun sekali untuk menuangkan idemu dalam Open Source Technologies!

Sunday, October 11, 2009

Happy birthday, Pah!

ini kali ke empat aku rayakan hari spesial ini. Aku harap rasa ini masih ada, dari 3 tahun lalu sampai ke tak hingga. I wish you a very happy birthday, dear. I miss you.

Zahra

Wednesday, August 12, 2009

Starting your life below zero is not that hard.

Sombong sekali judulnya. Hahaha. Tapi percayalah, kawan, bila kau tahu rasanya, tak ada satu pun orang yang mau merasakannya, dan hanya orang-orang terpilih saja yang dapat melaluinya. Aduh, sombong lagi deh. Bukan sombong juga sih, itu hanya suatu ketegaran yang aku ingin kalian mengetahuinya.

Hidupku jauh lebih membaik, berangsur-angsur memulih, lebih teratur. Aku lebih ekspresif, dinamis, kreatif, baik terhadap diriku maupun orang-orang di sekitarku. Aku juga merasa menjadi lebih open mind, lebih berpikir positif, lebih teliti, lebih waspada, lebih rapi, lebih dewasa dan satu lagi yang paling utama, aku lebih tegar.


Itu bisa terlihat dari kebiasaan-kebiasaan kecilku yang mulai kembali, seperti menghabiskan waktu di lapangan terbuka, mengisi waktu senggangku untuk bermain game, menggambar, bernyanyi, bahkan jadual keseharianku jauh lebih teratur. Terutama antara kegiatan yang dilakukan, asupan makan dan istirahat. Pula kegiatan dunia dan akhirat.


Kuliahku tidak jauh berbeda dengan semester sebelumnya di mana aku mengambil 8 credit. 2 dialokasikan untuk meluluskan major Human Computer Interaction, 2 untuk mendukung major Software Information System, 2 adalah course wajib bagi mahasiswa di bawah School of IT, dan 2 adalah mata kuliah pilihan yang mendukung major Human Computer Interaction.


Regarding to GPA, mine is so so. Dibilang bagus tidak, dibilang jelek tidak juga. Loh. Menurutku, GPA-ku itu kemungkinan akan susah untuk mendapat beasiswa, kawan. But, not bad. Terkadang menurutku nilai segitu amatlah luar biasa mengingat segenap hati, jiwa, dan ragaku yang dihancurkan di saat-saat yang sangat tepat untuk menghancurkan masa depan. Dengan hasil pass saja sudah seharusnya aku sangat bersyukur. Wajar, karena aku ditinggal salah seorang yang paling aku cintai dan sayangi dengan cara terburuk yang tak pernah kusangka. Kalau kata Lobo, You left me, just when I needed you most.


Kawan, aku normal, sangat normal. Aku bukan orang yang bisa dengan tiba-tiba menyatakan Single and Happy sesaat setelah ditinggal pasangannya, apalagi bukan dengan cara yang baik, walaupun hubungan kita yang sudah amat tidak sehat untuk dilanjutkan, tidak peduli seberat apa usahaku untuk mempertahankan hubungan sakit itu. Aku banyak menghabiskan waktu sendiri, menyendiri, menangis tiap pagi dan petang. Haah, aku berani jamin, kedua teman serumahku tak tahu adanya. Bahkan teman sekamarku, Nurul Annisaawati Sekarsundari, tempat kita berbagi ruang dalam kamar, pun aku jamin tak tahu. Terlebih Jingga Sukma Adita yang berbeda kamar. Pikiranku kosong, entah memikirkan apa, tidak masa lalu itu, tidak masa depan, tidak hari ini. Yang pasti pikiranku berat sekali. Hanya tangis yang dapat meringankannya. Nafsu makanku sangatlah labil. Aku tidak memikirkan lagi sakitnya maagku, tidak memikirkan kewajiban makan setiap 6 jam yang harus dijaga yang sudah aku terapkan selama kurang lebih 3 tahun. Terlebih komposisi karbohidrat, protein, lemak, vitamin yang kumakan. Ah. Aku tidak peduli. Aku bersyukur masih dapat tegar, melihat ke depan.


Aku kembali pulih bukan tanpa usaha, kawan. Aku kembali dapat menikmati hidup setelah menaruh konsentrasi di perkuliahan lagi, menghabiskan banyak waktu untuk latihan karate, mencoba untuk berlatih saman, menghabiskan waktu di kepanitiaan Pesta Rakyat dan Buku untuk Anak Bangsa, menikmati menjepret Brisbane, merekam video-video beberapa kegiatan, bermain bersama teman-teman, mengikuti beberapa perlombaan, mendaftarkan diri sebagai volunteer di beberapa organisasi, mendaftarkan diri sebagai anggota di beberapa instansi, mengikuti kajian-kajian, bersakit-sakit menghadapi susahnya mencari kerja-yang-aku-inginkan di Brisbane dimulai dari requirement yang terlalu tinggi, jadual yang tidak pas dengan kuliah, lokasi kerja yang tidak memungkinkan, tidak terpilih setelah interview, dan yang paling sakit; karena aku bukan citizen atau bukan Permanent Residence. Tapi di balik semuanya, aku bisa seperti sekarang ini karena-Nya. Mungkin dua teman serumahku bisa saja heran karena aku terlihat jauh lebih beriman dari hari-hari biasanya. Hahaha. Dasar manusia, paling mengingat Tuhannya ketika berada dalam kesulitan. Tapi aku bersyukur, karena tidak digiring ke jalan yang kurang baik. Puji syukur Tuhan semesta Alam.


Aku sudah melewati masa-masa berat dan lelah itu, kawan. Aku teringat di satu hari di bulan Juni, ketika aku bisa kembali tertawa lepas. Rasa dari hati yang tidak pernah aku rasakan untuk beberapa bulan lamanya. Ekspresi yang benar-benar spontan, lepas, membuncah begitu saja. Lalu satu malam di bulan Juli, aku yakin itu malam di mana aku mulai bisa tidur nyenyak. Malam di mana aku bisa tertidur sesaat aku merebahkan diriku di kasur kamarku. Lalu satu siang di bulan Juli, aku merasakan semua keinginan makanku kembali seperti semula. Aku makan 3 kali sehari, dengan 6 jam selangnya, kecuali antara makan malam dan makan pagi yang bertenggang 12 jam. Aku pusing bila tidak makan, aku mengantuk sesudah makan. Tidakkah kau merasakannya indahnya, kawan? Dan satu hari di bulan Agustus, aku merasakan apa yang tidak aku rasakan untuk sekian lama. Rasa yang tidak pernah ada lagi selama sekitar 3 tahun. Ah. Kalau Titiek Puspa bilang, Berjuta rasanya.


Tak henti-hentinya aku berterimakasih kepada orang-orang yang akan tetap dan selalu menyayangiku apa adanya, menerimaku dengan tulus dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Terutama Mika Halpin Hasanah, yang omongan dan sarannya tentang hal ini sering aku hiraukan, orang yang selalu menasihatiku untuk kebaikanku. Tak kurang dan tak lebih. Juga Jibrilia Alamsjah yang selalu sabar mendengarkan keluh kesahku yang itu-itu saja, yang selalu bilang, Masalahnya bukan di lo Zah, inti masalahnya bukan di lo. Nothing’s wrong with you. Orang ini begitu menginspirasiku agar tetap tegar, yah, tegar. Lalu ada Imairi Eitiveni yang senantiasa beristighfar bila aku menceritakan kisahku, uni selalu bilang, Cinta itu menyembuhkan, bukan menyakiti. Aku selalu ingat doa yang diajarkannya kepadaku tentang mencari pasangan terbaik. Lalu Ashriana Saddatini yang selalu meyakinkan bagaimana beruntungnya diriku sekarang karena tak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari hubungan semacam itu. Ah, orang ini kerap membuatku tertawa, ia selalu saja mempunyai contoh pembanding kisahku, yang lagi-lagi membuatku makin merasa beruntung. Thanks heaps, Moch! Lalu seorang yang senantiasa mengingatkanku tentang hidup, bahwa hidup itu bukan untuk jatuh terus-menerus, tapi juga untuk bangun dan berjalan lagi. Hidup itu bukan untuk sekarang saja, tapi untuk hari-hari ke depan. Hidup itu bukan untuk seorang saja, tapi untuk orang banyak. Dan semuanya, tak lepas dari kasih sayang Ibu yang kerap menelponku tiap hari, Bapak, yang menunjukkan kasihnya dengan cara yang sangat unik dan Allah SWT, yang memperkenankan aku untuk kembali.


Wednesday, July 1, 2009

Beberapa Saat setelah Teman Serumah Saya Mengajak Saya untuk Makan

Kepala sakit. Pening; pusing. Tanda-tanda maag sudah mulai ada; sayatan-sayatan di lambung, sudah mulai banyak gas. Artinya sudah harus makan. Maunya makan di rumah, tapi kondisi badan agak menolak untuk membuat makanan, L E M A S. Tapi kalo makan di luar harus ngerelain paling ga AU$6. Berpikir.

Akhirnya memutuskan membuat makanan tergampang; Nasi goreng. Ditambah telur. Bisa diceplok, didadar, atau dicampur ke nasi gorengnya. Atau sosis yang masih ada beberapa buah. Oke, saya makan nasi goreng telur dan sosis.

Saya mulai memasak nasi. Sembari itu, saya ingin menggoreng lauk. Melihat penggorengan yang berisi minyak dengan ketinggian yang lumayan, yang baru saja dipakai teman serumah, saya berpikiran menggoreng sosis.

Saya mulai menggoreng sosis. 5 buah. Untuk beberapa kali makan dan beberapa orang. Waktu yang diperlukan agak lebih banyak dari biasanya dan entah mengapa saya merasa itu terlalu lama dan saya terlalu L E M A S untuk menggoreng telur, karena harus mencuci penggorengan lagi, mengeringkan lagi, baru bisa mulai menggoreng telur. Oke, saya makan nasi goreng dan sosis.

Nasi sudah matang. Tapi entah mengapa, saya terlalu L E M A S untuk membuat nasi goreng, karena harus mencuci penggorengan lagi, mengeringkan lagi, baru bisa mulai membuat nasi goreng. Oke, saya makan nasi dan sosis.

Sosis sudah matang. Tapi entah mengapa, saya terlalu L E M A S untuk makan, dan saya rasa saya harus tidur. Oke, saya tidur.

Dan makannya?

Wednesday, June 24, 2009

Dear Mr Scott,

If I don't pick up the telephone, it means that I'm in exhibition hall, doing my last exam. Thanks.

Tuesday, June 23, 2009

Kegunaan Putih Telur

Kalian semua pasti sudah tahu yang namanya putih telur kan? Pengen deh nulis pake bahasa gini tapi takut ga konsisten, hehe.



Lo semua pasti pada tau putih telur kan ya? Itu loh yang warnanya putih, yang didalemnya ada kuningnya. Haha, ga menjelaskan. As far as I know, and CMIIW, an egg comprises egg yolk, albumen, shell membrane, and egg shell. That albumen is commonly known as white egg atau putih telur. Albumen itself consists of chalazae (a smooth thin layer that conjunct egg yolk), inner thin layer, solid and thick of white egg, and outer thin layer (conjunct with egg membrane shell).

Lalu, putih telur itu juga sangat berguna di dunia kuliner loh, mulai dari membuat sup, kue-kue, sampai pepe panggang (apa ini?). Khusus untuk kue, banyak buku yang memuat kegunaan putih telur, karena tekstur yang dihasilkan putih telur cukup unik dibanding dengan putih telur yang udah dicampur kuning telur, salah satunya ini.

Selain untuk bidang kuliner, putih telur juga bisa berguna untuk menghilangkan bekas luka di badan. Caranya gampang banget. Tinggal usapin putih telur terus menerus di tempat bekas luka sebelum tidur. Nah untuk yang satu ini gw blum coba, tapi sumbernya bilang gitu.

Hebatnya, bangsa Mesir Kuno memakai putih telur untuk merekatkan gold leaf dan putih telur juga dipercaya oleh penduduk asli suku Indian Amerika Utara untuk perekat dalam membangun canoes. Dan gw juga pernah denger, di salah satu acara National Geographic, bahwasanya telur itu salah satu bahan yang digunakan buat membangun Pyramid, yaa karna jaman dulu belum ada semen kali ya.

Intinya, kelebihan putih telur yang kurang terlihat selama ini adalah sifatnya yang sangat-sangat-sangat merekatkan karena ia akan tahan air apabila kering. Sekarang masalahnya adalah, bagaimana jika ada telur yang merekat di kulkas Anda? Telur itu merekat karena diyakini sempat pecah dan putih telurnya merekat di dasar kulkas. Sperti ini;


atau kalo kurang melihat putihnya bisa melihat gambar yang ini;


Yaa tau kan sekarang masalah gw di mana? Itu udah lebih dari 2 bulan abis telur itu sendirian merekat. Yak, sendirian! Sekarang, persoalannya lagi, kita harus bisa ngangkat telur itu sebelum kita pindahan, 17 Juli, kalo ga uang jaminan kita yang ditaro di agen, bakal kepotong. Huhu. Dan telur itu bakal jadi telur termahal yang pernah ada.

Doakan ya semoga telurnya bisa lepas dari kulkas. HOSH!

Saturday, June 20, 2009

11 June 2009; A Special Day! (part III)

Well, well, well, this is the third fantastic story to me on 11 June 2009. Hahaha, to me?

It was a damn cold Thursday and I had an appointment with Mr Gordon Scott, an export Brisbane director from Brisbane marketing. This meeting is a follow-up from Brisbane student ambassador program which I applied a week ago (from that time, for sure). FYI, 2009 Brisbane student ambassador is the first batch and in its first year, the objective of the program is to increase awareness of Brisbane’s world‐class education offering. This will be achieved by communicating real‐life local experiences from international students to their families and friends at home who are considering studying overseas.

OK, going back to my story again. Having no idea at all about the building, I planned to go there earlier and started searching for building lied on 15 Adelaide street. It was 12ish when I reached the building, the time I have never expected before, because we had a 13:30 meeting. IT WAS JUST TOO EARLY.

Long story short, I waited in their lounge, sat in a luxurious sofa, read magazines, drank mineral water I brought from home while suddenly a nice elegant guy greeted me, very very nicely. Suddenly he asked, apa kabar? I was shocked (yes, shocked) and I felt like my blood stopped pumping while he continued, selamat datang di Brisbane. Glek. WHAT? Am I talking to Indonesia breed now? Or he is an Indonesian? Or soo many questions around my head. To be honest, I couldn't feel what I was feeling, whether relax or the other way around. Weird, huh?

He said that he learned bahasa when he was studying and still bit remember. Anyway, I enjoyed the interview which is mostly filled with debriefing about this program and some light questions about me, the use of on-line stuff, how I interact with that, etc. I also proved my visa which is still valid until then end of this program, at least. He joked once or twice, sometimes with bahasa and that was very enjoyable. I asked one closing question at the end of our conversation and he gave his name card just before I left his room. What a businessman, hehe.

After that, I went home catching a 412 bus, and probably there is another story I have to tell y'all regarding to this bus.


Cheers,
Zahra.

Older Posts

Blogger Template by Blogcrowds